Skip to main content

Perikanan NTT memiliki keanekaragaman hayati laut yang kaya yang telah menopang mata pencaharian masyarakat pesisir selama beberapa generasi termasuk potensi perikanan gurita NTT. Di antara beragam spesies laut yang ditemukan di wilayah ini, gurita menempati tempat khusus, baik secara budaya maupun ekonomi.  Pada tanggal 12 Juli 2023, Sahabat Laut Lestari menjadi salah satu pemapar materi tentang Fisheries Improvement Program (FIP) yang berfokus Perikanan Gurita yang sedang dikerjakan di kabupaten Sikka NTT. Untuk menjaga populasi gurita dan menjamin pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, Perikanan Gurita telah menjadi bagian dari Komite Pengelola Bersama Perikanan di Nusa Tenggara Timur.

Perikanan Gurita NTT-SLL © sahabatlautlestari.com

Komite Pengelola Bersama Perikanan merupakan sebuah wadah pengelolaan perikanan antar pemangku kepentingan yang diprakarsai oleh sejumlah Dinas Kelautan dan Perikanan daerah dan MDPI dengan fokus utama pada perikanan tuna, cakalang, tongkol (TCT). Awal mula pembentukan komite ini pada tahun 2014 dengan nama Data Management Committee lalu berganti nama menjadi Komite Pengelola Bersama Perikanan atau Fisheries Co-Management Committee pada tahun 2019.  Sikap inisiatif kolaboratif yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, antara lain instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), peneliti, masyarakat lokal, dan nelayan. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan strategi pengelolaan bersama yang mendorong tanggung jawab bersama dan pengambilan keputusan untuk praktik perikanan berkelanjutan. Serta adanya payung hukum yang telah diterbitkan, komite ini konsisten untuk mendiskusikan tentang isu, tantangan serta informasi terbaru perikanan. 

Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia telah memfasilitasi pertemuan komite di 6 provinsi yaitu Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Setiap KPBP menunjukkan peningkatan kapasitas untuk membahas pengelolaan perikanan dan melaksanakan rencana kerja yang telah disepakati demi kemajuan menuju penerapan pengelolaan adaptif. Namun menyadari pentingnya ekologi, signifikasi sosial ekonomi serta perkembangan perikanan. Maka pada KPBP  provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur ini meluas cakupannya menjadi perikanan multispesies.  Perluasan ini menandai langkah maju yang signifikan dalam mengakui perlunya pendekatan holistik terhadap pengelolaan perikanan yang memperhitungkan berbagai spesies laut.

Perikanan Gurita NTT - SLL © sahabatlautlestari.comPenangkapan perikanan gurita NTT telah menjadi bagian integral dari praktik penangkapan ikan tradisional di Nusa Tenggara Timur, menyediakan sumber pendapatan dan makanan yang vital bagi masyarakat pesisir. Namun, tekanan penangkapan ikan yang meningkat, perusakan habitat, dan perubahan iklim telah menimbulkan tantangan signifikan bagi populasi gurita dalam beberapa tahun terakhir. Praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, seperti menggunakan alat tangkap yang merusak dan menangkap individu yang berukuran terlalu kecil, telah mengancam keseimbangan ekosistem gurita yang rapuh.

Dimasukkannya perikanan gurita ke dalam KPBP telah memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang isu-isu yang mempengaruhi sumber daya laut yang berharga ini. Komunitas lokal dan nelayan, yang memiliki pengetahuan mendalam tentang habitat dan perilaku gurita, memainkan peran penting dalam menyumbangkan wawasan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan bottom-up terhadap pengelolaan perikanan ini memberdayakan masyarakat dan menumbuhkan rasa memiliki, yang mengarah pada kepatuhan yang lebih besar terhadap peraturan penangkapan ikan yang berkelanjutan.

Selain itu, keterlibatan komite dengan para peneliti dan LSM membawa keahlian ilmiah dan upaya konservasi ke dalam persamaan. Dengan menggabungkan pengetahuan tradisional dengan data ilmiah, strategi pengelolaan bersama menjadi lebih kuat dan efektif dalam melestarikan populasi gurita dan habitatnya. Pencantuman perikanan gurita NTT dalam KPBP juga telah memfasilitasi pengembangan rencana pengelolaan adaptif. Rencana ini mempertimbangkan sifat dinamis ekosistem laut dan ketidakpastian yang terkait dengan perubahan iklim dan faktor eksternal lainnya. Dengan menerapkan manajemen adaptif, komite dapat menyesuaikan strateginya berdasarkan pemantauan dan evaluasi berkelanjutan, memastikan keberlanjutan perikanan gurita untuk generasi mendatang.

Melalui Komite Pengelola Bersama Perikanan Nusa Tenggara Timur telah mencontohkan kekuatan kolaborasi dalam mencapai pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Dengan menyadari pentingnya perikanan gurita dan melibatkan masyarakat lokal dan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan, komite telah mengambil langkah signifikan menuju pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan seimbang terhadap pengelolaan sumber daya laut. Namun, tantangan tetap ada di jalur menuju perikanan gurita yang berkelanjutan. Penangkapan ikan IUU, penegakan peraturan yang tidak memadai, dan sumber daya keuangan yang terbatas menimbulkan ancaman berkelanjutan terhadap keberhasilan upaya pengelolaan bersama. Mengatasi tantangan ini membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan dan peningkatan dukungan dari pemerintah dan organisasi internasional.

Leave a Reply