Bagaimana jika ikan hasil tangkapan ilegal bisa masuk ke rantai pasok yang legal, tanpa terdeteksi? Praktik ini disebut fish laundering, dan menjadi masalah yang ingin dipecahkan oleh Sahabat Laut Lestari. Bagi pelaku usaha perikanan, satu-satunya perlindungan adalah traceability: bukti data yang bisa diperiksa tentang dari mana ikan Anda berasal.
Aturan di pasar ekspor pun berubah cepat. Artikel ini menjelaskan enam alasan traceability penting bagi bisnis perikanan, lengkap dengan sumber resmi di setiap poin.
Baru mengenal topik ini? Baca dulu Apa Itu Seafood Traceability Programs di blog kami.
Apa Itu Traceability dalam Bisnis Perikanan?
Traceability perikanan adalah kemampuan melacak produk ikan dari titik asal (penangkapan atau budidaya) sampai ke pembeli, lengkap dengan data lokasi, waktu, dan pihak yang menanganinya. FAO menggambarkannya sebagai kemampuan menelusuri produk dari titik penjualan kembali ke titik asalnya.
1. Syarat Akses Pasar Ekspor
Pasar tujuan utama kini mensyaratkan data asal produk:
- Uni Eropa. Penggunaan sistem digital CATCH wajib bagi operator dan otoritas UE untuk impor produk perikanan sejak 10 Januari 2026. Dokumen kini juga memuat nomor identifikasi kapal, tanggal mulai pelayaran, alat tangkap, dan lokasi tangkapan yang tepat.
- Amerika Serikat. SIMP adalah program ketertelusuran berbasis risiko yang mengatur pelaporan dan pencatatan dari titik panen hingga masuk ke pasar AS. Selain itu, aturan perlindungan mamalia laut (MMPA) berlaku sejak 1 Januari 2026, dan perikanan rajungan Indonesia memperoleh persetujuan NOAA pada 11 Mei 2026.
- Indonesia. KKP menyebut perdagangan internasional kini didominasi regulasi non-tarif yang menuntut ketertelusuran, kepatuhan sosial, dan keberlanjutan.
Tanpa data yang rapi, kiriman berisiko tertahan atau ditolak.
2. Melindungi Bisnis dari Rantai Pasok Ilegal (IUU Fishing)
FAO memperkirakan IUU fishing menyumbang sekitar 20% tangkapan dunia dan menciptakan persaingan tidak adil bagi pelaku usaha yang patuh. Dengan traceability, perusahaan dapat membuktikan bahwa bahan baku berasal dari sumber yang sah, sehingga reputasi dan izin ekspor lebih terlindungi.
3. Memenuhi Regulasi Nasional (STELINA)
Pemerintah Indonesia mengembangkan STELINA (Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional). Permen KP Nomor 32 Tahun 2024 menjadikan sistem ketertelusuran acuan utama di seluruh rantai pasok, dari pra produksi hingga pemasaran. Hal penting bagi pelaku usaha:
- KKP menyatakan STELINA akan diterapkan bertahap sebagai persyaratan ekspor.
- Fokus saat ini pada ekspor udang, tuna, dan rajungan.
- Sistem mengadopsi standar GDST agar antar sistem dapat saling terhubung, dengan target operasional penuh pada 2027.
Bisnis yang menyiapkan sistem lebih awal punya waktu lebih longgar untuk menyesuaikan diri.
©SLL-Solutions
Baca juga: Traceability Software in Indonesia: Support Sustainable Fisheries
4. Menjawab Tuntutan Transparansi Pembeli
Wakil Menteri KP menegaskan bahwa pasar kini membutuhkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berasal dari rantai pasok yang legal, transparan, tertelusur, dan berkelanjutan. Pembeli ingin bukti yang bisa diperiksa sendiri, bukan sekadar klaim.
©SLL-Solutions
5. Menambah Nilai Jual Produk
KKP menyatakan penerapan ketertelusuran memberi nilai tambah yang signifikan bagi produk perikanan Indonesia di mata dunia. Perwakilan industri dalam forum yang sama menilai digitalisasi ketertelusuran bukan lagi pilihan, melainkan syarat untuk bertahan. FAO juga mencatat bahwa traceability dapat membuka jalan menuju sertifikasi dan harga pasar yang lebih baik bagi nelayan yang bertanggung jawab.
Baca juga: FIP & Certification Impact: nilai tambah produk perikanan berkelanjutan
6. Efisiensi Operasional dan Respons Cepat
Data yang tercatat rapi dalam satu sistem mengurangi salah input, dokumen hilang, dan waktu pencarian saat audit atau keluhan pembeli. Dengan data yang terhubung dari hulu ke hilir, tim dapat menelusuri sumber suatu lot jauh lebih cepat dibanding pencatatan manual yang tersebar.
Dari Lapangan: Integrasi STELINA dan TraceTales
Sahabat Laut Lestari, bersama Ditjen PDSPKP KKP dan MDPI Foundation, menyelesaikan tahap akhir integrasi API STELINA dengan TraceTales di Bitung pada 8–9 November 2023. Uji coba berjalan sekitar empat bulan pada dua Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan berhasil mengirim data langsung dari TraceTales ke akun STELINA, sehingga pelaku industri tidak perlu input ulang data antar-software.
©SLL-Solutions
TraceTales™: Software Traceability untuk Perusahaan Pengolahan Ikan
TraceTales™ adalah software traceability buatan Sahabat Laut Lestari untuk perusahaan pengolahan seafood, guna mencatat dan mengelola data di semua tahap: penerimaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman dan distribusi. TraceTales memiliki keunggulannya antara lain:
- Input layar sentuh yang mudah dipakai, berjalan di jaringan lokal (LAN) sehingga tetap bisa digunakan di lokasi dengan internet lemah atau tidak stabil
- Data timbangan tercatat otomatis, dan label berisi QR code unik ikut melekat di sepanjang proses
- Pembeli bisa memindai QR code untuk melihat asal ikan, tanggal pengolahan, grade mutu, berat, dan informasi lain
- Kode lot internal yang memudahkan penelusuran sumber ikan dari kode area tangkap, kode pemasok, dan tanggal pengolahan
- Lima proses utama: Receiving, Cutting, Retouching, Packing, dan Shipping
- Cakupan modul luas: 5 modul utama, 26 modul, 80+ sub-module, dan 180+ tipe produk.
©SLL-Solutions
TraceTales telah digunakan oleh 14 perusahaan dengan total 3.500 ton produk dan 180 jenis produk. Pengguna dan mitra kami mencakup perusahaan pengolahan ikan di berbagai daerah, lihat daftar klien dan mitra.
Siap Membuat Bisnis Perikanan Anda Mudah Ditelusuri?
Lihat langsung bagaimana TraceTales bekerja untuk perusahaan Anda.
Request Demo TraceTales via WhatsApp | Hubungi Tim Kami | Pertanyaan Umum (FAQ)